Sunday, March 1, 2009

Menyapa Sahabat!

Petang itu, menjadi potongan peristiwa yang sangat membekas bagi kami, lebih tepatnya mungkin mencemaskan. Iya, paling tidak bagi kami berdua. Yang masih merindukan keberadaanya. Yang masih menantikan semangatnya. Tapi malah membelakangi kami, ke arah yang kami sendiri tidak ketahui dan sebab yang kami pula tak tahu.

Ketika itu kami ingin memutaba’ah seseorang di sana, di sebuah asrama. Alhamdulillah. Yang kami cari ternyata ada di tempat. Akan tetapi, ada seorang sahabat lagi yang biasanya tampak di sana. Kami menanyakannya. Tak terduga sahabat ini telah angkat koper dari sana. Baru saja semalam. Namun, sebelumnya kami telah tahu bahwa ia tak sekedar "pergi". Kemudian kami menjejaki ruang revolusinya. Peraduan yang telah dia tinggalkan entah akan ke mana. Di sekitar kamar itulah kami selalu berembuk selepas penatnya kuliah dan aktivitas lainnya di kampus. Dari alif, ba, ta, dst. Mungkin tidak ada yang terlupa kami bahas dulu di sana. Namun sekarang, tak ada yang tersisa di sana. Kecuali di salah satu sisi ruangan itu, tertinggal goresan tinta, terukir dengan semangat yang menyala-nyala. Tulisan itu masih sangat jelas:

….

Wahai generasi muda ….

Wahai generasi pejuang .…

Salam pembebasan!!!

Negeri ini sedang tertindas

Negeri ini sedang melarat

Negeri ini butuh perubahan

Negeri ini butuh generasi-generasi pembebas

Mari bebaskan negeri ini dari keterjajahan

Mari menjadi mahasiswa dan generasi-generasi yan ideologis

Mari bersatu, bergerak, tegakkan ideologi Islam!!!

Salam perjuangan dari saudaramu …..

….

Setelahnya dia mengukir nama, telepon, dan email-nya, pertanda bahwa dia selalu siap dengan hidangan diskursus yang siap dia santap dengan lahap ketika diajak bertarung, ghawzul fikr,
pertanda besarnya kobaran semangat itu …
Kawan, kami tahu engkau takkan lari dari perjuangan ini,
Negeri ini butuh generasi-generasi pembebas,
sebagaimana yang pernah engkau goreskan dengan tinta revolusimu
Kita semua pernah memulainya, bahkan engkau jauh lebih dulu
Maka kita wajib menyelesaikannya
Seperti perjuangan Muhammad Al Fatih dan pasukannya ketika membebaskan Spanyol
Yang tak ingin mendur sejengkal pun (walau dalam kondisi sulit),
kecuali menemui dua kebaikan: Isykariman aumut syahidan …
Kami akan selalu menantn teriakanmu,
Kau akan tetap menjadi saudara kami, yang kami sangat cintai
Karena Allah
Kami tahu engkau akan kembali ke barisan ini ….
Salam pembebasan …
Roma menunggu kita, Kawan!

No comments: