Monday, October 8, 2007

Saudaraku, maaf dan terima kasihku!

Satu pekan yang sangat ”santai” bagi saya di balik gerak-gerak dakwah yang tetap kalian jalani di sana demi mewujudkan mimpi-mimpi kita akan kejayaan Islam suatu nanti. Sepertinya saya tidak lagi produktif melakukan rutinitas itu lagi dalam satu pekan ini, yang selalu membuat kita yakin setiap larut di dalamnya maka keyakinan kita tentang janji-Nya terasa semakin dekat. Inikah virus ideologis yang kau sebut itu?

28 September 2007


Selengkapnya...

Asa Surga

Kira-kira seminggu yang lalu, begitu tiba di depan pintu rumah, saya mendengar dialog singkat seorang pemuda yang sedang membeli sebatang rokok dengan seorang lelaki paruh baya, di depan kios kecil yang terletak di depan tempat kost saya. Kurang lebih ilustrasinya seperti ini,

Lelaki paruh baya : “Tidak puasa ko lagi hari ini?”

Pemuda : (Sambil menjepit sebatang rokok di antara dua jari di tangan kanannya, kemudian berusaha memperlihatkan kemantapannya dalam menjawab)

“Biar puasa-ki, masuk jaki juga neraka. Jadi skali tidak usah-mi puasa saja!”

Lelaki paruh baya : (Kelihatan bingung mau membalas dengan kalimat seperti apa lagi)

Kemudian percakapan mereka berlalu seiring masuknya saya ke dalam rumah sambil berusaha mencerna pernyataan dari pemuda tadi. Sedemikian putus asanyakah dia sehingga dengan begitu sangat sadar mengeluarkan rangkaian kata yang saya sendiri sangat susah untuk mencari maksud di balik kata-katanya itu. Pikirku, bisa saja dia (pemuda) hanya ingin memberikan jawaban instan karena tidak ingin berlama-lama meladeni pertanyaan itu, atau dia hanya ingin menunjukkan bahwa berpuasa itu ternyata sangat sulit dan dia sendiri tak sanggup menjalaninya. Atau, dia betul-betul sudah putus asa dan telah menutup harapan dan peluangnya untuk bisa masuk ke surga yang di dalamnyalah kita akan kekal.

Jikapun alasan yang terakhir yang dia pikirkan, maka saya dapat menyimpulkan sementara bahwa alasan ini muncul karena belum mantapnya pemahaman tentang agama, termasuk keberadaan surga itu sendiri dalam kepalanya. Masalah ini muncul karena edukasi yang sangat kurang tersedia di lingkungan masyarakat. Keluarga sebagai benteng awal pendidikan bagi setiap anak belum bisa menjadi pondasi kekuatan akidah. Sekolah yang dianggap sebagai sarana penanaman iman juga tidak bisa menjamin harapan para orang tua yang telah melepas tanggung jawabnya tadi agar anak-anaknya mempunyai filter yang cukup saat bergaul di tengah-tengah masyarakat. Yang terjadi adalah sekularisasi pendidikan. Bukti yang sangat tampak adalah adanya sekolah yang dikelola oleh Departemen Pendidikan dan Departemen Agama. Padahal di zaman kekhalifahan Islam, pendidikan tidak dipolarisasikan seperti itu. Antara ilmu agama dan pengetahuan sains teknologi terintegrasi, saling beriringan sehingga tidak terjadi seperti sekarang, di mana pendidikan agama dicicipi oleh siswa sekolah (yang dikelola Departemen Pendidikan) hanya berdurasi dua jam. Sungguh ironis mengingat ilmu agama sangat erat kaitannya dengan pencapaian visi seorang manusia di dunia maupun di akhirat, termasuk pemahaman tentang surga tadi dan bagaimana pejalanan menuju ke sana. Seorang pemuda yang telah mengumbar keputusasaannya tentang harapan menuju surga-Nya. Inikah salah satu cerminan akibat diberlakukannya sistem yang ada sekarang? Wallahu a’lam bi ash shawab.

28 September 2007

Selengkapnya...

Thursday, September 13, 2007

Ramadhan, Bulan Pembebasan


Marhaban Ya Ramadhan
Kuingin membuatmu lebih bermakna ...
Izinkan aku untuk membebaskan deretan keluhku selama sebelas bulan kita tak bersua!
Selengkapnya...

Monday, September 3, 2007

Ibu, Jangan Dengar Mereka !

Ribuan kilo, jalan yang kau tempuh. Lewati rintangan demi aku, anakmu. Ibuku sayang, masih terus berjalan. Walau tapak kaki penuh darah, penuh nanah… (Iwan Fals, dalam lagu berjudul Ibu)

Subhanallah… Betapa mulianya kaum ibu. Mereka akan senantiasa siap untuk berkorban apapun demi buah hati yang dicintainya. Bahkan hingga kita dewasa saat ini, ibu masih tetap memandang kita sebagai bayi kecilnya yang membutuhkan perhatian besar dan perlindungan.

Duhai kaum ibu, dimanakah kalian hari ini? Dimanakah kalian ketika anak-anak membutuhkan perhatian dan belaian kasih sayang? Dimanakah kalian ketika keluarga sangat membutuhkan peran muliamu sebagai ummul bait?

Feminis SAMPAH !!! Kalian telah memprovokasi ibu kami untuk bertempur dengan kaum adam di ruang publik. Kalian telah menyeret ibu kami ke dalam jurang permusuhan tak berdasar dengan kaum lelaki. Dengan dalih kesetaraan jender, kalian membuat ibu kami menanggalkan kemuliaannya sebagai pengatur rumah tangga. Dengan dalih itu pula kalian membuat ibu kami tergantikan oleh gelimang materi tanpa nyawa.

Karena kalianlah, hai kaum feminis! kami kehilangan ibu kami. Kami kehilangan arah. Dan ini pula yang menyebabkan kami menganggap kalian, hai kaum feminis ! tetap sebagai SAMPAH!!! (catatan-revolusi)
Selengkapnya...

satu keluhan


serasa pikiran menggunung,
bebannya tak kuasa kupikul sendiri ...
bukan mengemis, sahabat! tapi berusaha menuai "kualitas"
Selengkapnya...

Sunday, August 12, 2007

Thuffail Al Gifari - Sehelai Tirai Demokrasi

Bercerita tentang kemiskinan dan setiap proporsi tetang keterbelakangan
Disekolah ketika kau duduk membaca pelajari setiap kata bahasa dan budaya
Mentalar setiap isi sejarah dan urgensi tentang Dogma
Dari setiap kurikulum yang dustakan intisari Akidah
Lempar paradigma tentang perdamaian
Mengaliri kebenaran ke sudut pemurta dan
Senggama neraka dari percaturan Modernitas
Yang palsukan makna rukun Islam diatas omong kosong Pluralitas


Dongeng kebodohan kaum trinitas
Menjelma dari setiap candu yang selalu klise terbahas
Manipulasi setiap kedok Toleransi
Bersembunyi diatas real type tentang cinta kasih
Boneka para kafir Demokrasi
Ketelanjangan amarah sebuah nilai tentang hak asasi
Di setiap tinta ijazah yang berubah menjadi tirani komsumerisme
Instalasi otak tercuci gengsi Modernitas
Di sekolah dan setiap bukti nyata kesenjangan kelas
Kebohongan pendidikan pada satu rangkaian ambisi kafir membakar batas
Antara kufar dan mukmin sejati
Simaklah musuh-musuh Islam di sekitar kita
Itulah para nasrani dan yahudi tak henti-hentinya
Selalu coba mendustakan syahadat kami
Yeah...Come On..!!!

Benturkan waktu...
Sungguh batas kesesatan jarak membendung kalbu
Tertusuk pilu...
Etape para pendusta agama disekitarmu
Dan para sahabat yang termurtadkan
Candu juru selamat palsu
Kuantitas para penipu
Membius dogma pluralitas senggama
Maka bersatulah umat Islam berteguhlah pada tali agama AllahJanganlah Kau bercerai berai

Yooww...
Pukul 7 pagi WIB ketika sistem mulai palsukan
Makna dari dua kalimat syahadat
Sekolah umum tidak mengajarkan kita menjadi mukmin sejati
Rangkaian pembuta makna kemurnian akidah
Pendusta agama diatas kompromi demokrasi
Hipokrasi dari Aksiomatis kristenisasi
Mengiringi strategi dari kelicikan regenerasi partai damai sejahtera
Mantra Dajjal dan boneka para yahudi
Terlaknat dari omong kosong eintokia
Barigade para setan misionaris dan pengekor nasionalis
Universalitas agama yang menjebak kawah sudut pandang tentang neraka
Maka bersyukurlah kepada militansi
Karena fanatik adalah kunci mukmin sejati
Sekolahku adalah Tarbiyyah Islamiyah
Murrobiku adalah wali kelasku
Nabi Muhammad adalah teladanku
Dan Allah SWT adalah segalanya bagiku
Maka jadilah muslim sejati
Yang berlemah lembut terhadap sesama Islam
Dan bersikap keras terhadap orang kafir
Dari Sehelai Tirai Demokrasi
Selengkapnya...

Soldiers of Allah - 1924

The truth about the state
It wasn't always like this
Let us look back in time
History reminds us
One army
One land

One central authority
Crushing the romans persians put in fear
The Ummah like a Lion
No need to shed a tear

When the village was attacked by the kufar
The Khalife heard
The sister cry
& Prepared for war
Attacking the city

Destroying it
from existence
Lesson # 1
Don’t ever
Mess with Muslims

The Imam of the Ummah is a shield where he protects the Ummah and where the Ummah fights behind him
Where is this shield today to protect the Ummah?? What happen to this shield to honor and dignify the Ummah???
In 1917 Prime Minister of britain after entering Jerusalem stated “the crusade war has ended”
In the same year the french general, goro went to the grave of Salahudeen-Ayubi
Salahudeen-Ayubi, the one who 730 years prier crushed the crusades and liberated Palestine & Syria
he went to his grave in Damascus and kicked it and said wake up oh Salahudeen we hare here
How did they do this
to you and me
We turn on the TV
and all we see
is a world full of casualties
a generation in agony
our Ummah is in misery
let us go back
to beginning of the century
and review our history

from one side
to the other side of the globe
the system of Islam
Ruled over the world
They went to the Muslims
for the all their solutions
from mathematics to biology
to the advancements in technology

the kafir women
use to imitate our women
they wanted the same respect
that the Muslims sisters were given while the enemies of Islam
were trying to twist the Quran
trying to write a Surah like Allah’s they all failed miserably
& many of them responded with Ashhadu -an la Ilaha Ilallah wa Ashhadu- anna Muhammadun rasullullah
Allah has challenged the humanity until the day of judgment to produce a Sura or an Aya like the Quran
And Allah assures that they will never be able to make an Aya like it
The kufar plan and work to destroy this Deen and Allah affirms that we too are planning
and if all the people of the world got together they still could not and will never be able to put even a scratch a side of a muster seeds on the throne of almighty Allah (SWT)

After failing on the battlefield
they kufar got together
and they decided to yield
they said we must change
the way the Muslims think
and sure enough

the Muslim Ummah
began to sink
In 1917 john belford
promised Palestine
to the jews 31 years later
his promise went through

brittan and france
split the Muslim lands
3 years later
Islam worst traitor
mustafa kamal
Brought the states fall

In 1920’s mustafah kammal with the help of the british becomes the hero
Hmm well this so-called hero cancels the authority of the most powerful system suitable for human beings
The khilafah!!!
he abandon all the rulings of Allahâ he did not stop there
He abanded the Adan in Arabic, he denied Muslim sister from obeying Allah (SWT) by abandoning the Hijab
All Islamic calendars and holidays were canceled
Yes brothers and sisters
he changes the Arabic alphabet to Latin
By doing so he made sure the next generation will be lost and have no connection to their Islamic roots
as they can not read or write all the Islamic culture that was recorded
This Islamic system sent by the Creator of alameen went from the application in life to be in museums for people to go and see in turkey

In 1924
Our state was demolished
Hundred years of planning And their plans were accomplished
Kafirs broke our bond
Contaminated our knowledge
Better listen up
because you won’t learn this in college

Beginning of the end
and the divisions began
Step by step
they divided our lands
in 1921 saudi arabia & iran
next year egypt &
In 32 iraq

In 1945
jordan indonesia
Lebonen & syria
Two years later
The division of India
the Muslims took a stand
and demanded
the ruling of Islam
so they gave them pakistan
but it was only an illusion
a false resolution
far from the solution
In 1948
The Jews establish their israeli state

In 1901 the kufar went to Sultan Abdull Hamid the II and offered to pay tremendous amount of money to the Islamic State for Palestine. Sultan Abdull Hamid the II replied:
I am not going to give one inch of Palestine to the jews as Palestine is not mine give but it belongs to the Ummah and Ummah have shed blood to defend this land but if one day the Islamic State falls apart then you can have Palestine for free but as long as I am alive I would rather have my flesh be cut up then cut out Palestine from the Muslim land I will not allow any carving up while we are alive!!!!!

In 1960’s
somolia & nigaria
kuwait & algeria
In 1964 Came the PLO
yasar arafat
The us scarecrow
a great declined
In 1969
When the west was training Muslims scholars for hire
Jews were setting
Al-Aqsa mosque on fire!

Let us recall 1970
For those who don’t remember
That was the year
That we had black September

The king of jorden
& yaser arafat
Began their plot
Shot after shot
Muslim blood spilled
As innocent Muslims were killed
Communism attacked
but Muslims fought back

The sincere Mujahideen of Afghanistan fought and pushed back the Russians
and then They started to fight among themselves
Khomaine became in power with the promise of ruling and raising the Ummah to a level of dignity
But his promise never went through
soon after iran and iraq went to war
And millions of innocent Muslims died for 10 years Muslims killing Muslims
Over what!!!??? What else!!! the agenda of the west!!!Śat the end there were no resolution
Today iran is very much open to democracy and reformation
and the Muslims in iraq continue to sufferâ
SubhanAllah!. where is the Amir of the Ummah??!!!!

Another decade gone
But we still don’t have Islam
Take a look at the gulf
And the killings of sadam
Over million Muslims died
But no one answered their cries
In the 1990’s
The Muslim genocide
Bosnia
Kosovo
Chechenya
Dagistan

Bring back Islam!
Bring back Islam!
Bring back Islam!
Bring back Islam!

It’s year 2000
And nothing has changed
Past generation has aged
Let us write the next page
It’s time for us to change
It’s up to you & me
Either we make history
or we become history


Selengkapnya...

Monday, July 16, 2007

Janji Tentang Sebuah Kemenangan

Sahabatku,
Terima kasih atas kerinduan yang kautanam,
Sebuah kerinduan yang begitu nyata
Akan sebuah hari perlindungan
Meski kusesekali gelisah ...


Terima kasih atas keyakinan yang kautancapkan ini,
Sebuah keyakinan yang semakin membuatku mantap
Dengan sebuah keridhaan-Nya di hari-hari kemenangan itu
Walau sesekali kubertanya, adakah aku penting bagimu?


Sahabatku,

Terima kasih atas sentuhan pengaruhmu di setiap gerakku
Karena rindu dan yakin inilah semangatku
Karena tangan ini akan membawa sesuatu di hari itu
Setelah kupungut serpihan-serpihan hidup di sini


Terima kasih atas keberadaanmu, sahabatku ...
dan syukurku kepada Yang Menciptakanmu ...


04:52, 16062007 Selengkapnya...

Sesempurna yang Tak Terkira oleh Manusia

Kenapa manusia begitu keras? Kenapa manusia tidak acuh, bahkan congkak! Padahal mereka memiliki predikat luar biasa sempurna di antara ciptaan-ciptaan Sang Khaliq. Mereka diciptakan lengkap dengan berbagai potensi yang sangat sayang apabila ini disia-siakan begitu saja. Akal, kebutuhan, dan naluri merupakan potensi yang dimiliki manusia yang sungguh agung. Karena keagungannya itu, maka potensi-potensi tersebut harus dikelola secara adil dan arif. Tentu saja jika keidealan tercapai, maka predikat sempurna adalah sebuah kesempurnaan yang memang sempurna sebagaimana sempurnanya manusia di antara ciptaan-ciptaan yang lain. Bahkan, predikat kesempurnaan manusia sebagaimana mereka seorang ”manusia”, bukan hal yang perlu dipertanyakan lagi.

Mungkin pendapat yang mengungkapkan bahwa tidak ada manusia yang sempurna adalah pendapat yang bisa membantah pernyataan saya. Namun, jika kita berpikir lebih dalam lagi tentang hakikat penciptaan manusia itu sendiri, maka titik maksimal yang dapat dicapai oleh seorang manusia adalah kesempurnaan yang patut dikatakan ”sempurna” karena manusia diadakan ke belahan bumi tertentu oleh Maha Pencipta, beserta paket kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Hal inilah yang membuat saya berpikir dan bertanya, apakah hakikat kesempurnaan yang dipredikatkan Allah swt kepada manusia yang dikatakan mempunyai sederetan kelebihan dibanding makhluk-makhluk-Nya yang lain.

Kemudian apa kaitannya dengan sifat keras, tidak acuh, dan congkak yang saya maksudkan di awal tadi. Sifat-sifat tersebut akan muncul ketika seluruh potensi manusia tidak dikelola secara adil dan arif. Semua potensi tersebut pun tidak akan adil dan arif ketika manusia tidak punya pedoman dalam pengelolaannya sebagaimana sebuah mesin yang akan rusak dan tidak awet ketika kita tidak merujuk, bahkan menyalahi pedoman/panduan dalam penggunaannya. Manusia pun punya pegangan (baca: panduan) untuk menangani penyalahkelolaan dari setiap potensi yang menyatu dalam dirinya pada saat teraktualisasi. Ya, ternyata kesempurnaan itu akan sempurna jika manusia menyempurnakannya dengan panduan yang dapat mengelola setiap potensi yang dimiliki manusia. Tentunya, panduan (baca: kitab) yang harus diikuti adalah panduan yang sempurna yang telah ”dijamin” kesempurnaannya oleh Yang Mahasempurna, Dzat yang mengadakan kesempurnaan itu sendiri. Wallahu a’lam



Selengkapnya...

Monday, July 9, 2007

Seandainya…

Mungkin kita selalu lalai menyadari makna keberadaan kita.
Mengapa kita harus ada di koordinat sekarang kita berpijak. Mungkin juga Anda akan memberikan bantahan tentang hal ini. Akan tetapi, bagi saya bantahan itu semakin menguatkan asumsi saya bahwa Anda benar-benar lupa (atau bahkan tidak tahu) keberadaan Anda dan apa yang terjadi pada diri Anda hari ini dan besok ...
Hanya kepada-Nyalah kita mendedikasikan seluruh nafas ini.

Sebagai bahan refleksi buat kita hamba-Nya yang selalu lalai (termasuk saya).
Maaf, bukan bermaksud menggurui, tapi mungkin dengan watawasaw bil haq, dunia ini akan terasa lebih damai ...

Selengkapnya...

Saturday, July 7, 2007

Tak Terpisah Jika Mau

Kita satu tubuh
Perkasa dalam keabadian
dalam penghambaan tiap desahan nafas

Sejak empat belas abad yang lalu
Kobar semangat, tetes keringat, dan percikan darah
dalam naungan pedang tameng
dalam sejarah keperkasaan dan kecerdasan ummat
dari jazirah Arab, Eropa, hingga Indonesia
dari Maroko hingga Merauke


Memang kita satu tubuh ...
Sejak wahyu bersinar kepada Adam
hingga bumi digoncangkan
bahkan ketika tiba di singgasana-Nya
hanya bagi manusia yang mau

Walau Mustafa Kamal berkhianat
Walau Islam kini hanya puing-puing yang berserakan

Kita akan memungutnya lagi,
kemudian merangkainya,
hingga Islam bangkit kembali
hingga hukum-hukum-Nya berdiri
hanya bagi manusia yang mau



17:57, 07072007.
Seutas puisi untuk manusia-manusia yang “belum mau”.
Selengkapnya...

eL-Oemar ...

Umar bin Al-Khaththab ra.

Dalam sebuah riwayat dituturkan,
”Nabi saw telah berdoa kepada Allah swt, Ya Allah kokohkanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang paling Engkau cintai, dengan ‘Umar bin Khaththab atau dengan Abu Jahal bin Hisyam.”[HR Tirmidziy, dari Ibnu Umar. Shahih]
Inilah doa Rasulullah saw ketika beliau sangat menginginkan salah seorang dari dua umar tersebut bisa masuk Islam. Ketika itu, keduanya masih dalam kondisi kafir. Mereka juga memiliki kesamaan karakter, bersikap sangat keras terhadap siapa saja yang dimusuhinya. Hingga akhirnya, Allah swt mengabulkan doa Rasulullah saw dengan menjadikan Umar bin Khaththab sebagai seorang Muslim. Bahkan lebih dari itu, Umar ra. menjadi pengikut Muhammad yang setia membela dan memperkokoh risalah Islam seraya tetap memiliki sifat kerasnya, yang sangat keras terhadap musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya, musuh-musuh Islam, namun sangat terlihat lembut kepada kaum Muslimin, bahkan lebih lembut daripada perlakuan mereka kepada Umar sendiri. Sebagaimana yang dikatakannya,
"Kekerasanku hanya berlaku bagi mereka yg menyimpang dari aturanku. Dan bagi mereka yg bersama ALLAH maka kelembutanku melebihi dari pada saudaraku sendiri" [Umar bin Khaththab ra.]
Beliau ra. kelak akan meneruskan kepemimpinan Islam yang tetap dalam naungan Daulah Khilafah setelah kepemimpinan Abu Bakar As-Siddiq.
Sama halnya dengan Amirul Mu’minin sebelum dan sesudahnya, Umar ra. melakukan penaklukan-penaklukan dalam rangka memperluas dan memuliakan Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin. Negara adidaya sekelas Persia dan Romawi ditaklukkan olehnya. Sebagai Amirul Mu’minin, beliau juga bertindak sebagai panglima perang. Beliau adalah seorang negarawan besar di masanya sekaligus seorang mujtahid. Sabda Rasulullah saw,
“Allah telah menempatkan kebenaran di lidah dan di hati Umar.” [Hadits Syarif]
Iya. Dialah, Umar bin Khaththab, seorang penguasa separuh belahan dunia (Byzantine/Romawi dan Persia) yang rela memanggul makanan ke rumah seorang ibu renta dan miskin umtuk memastikan bahwa kebutuhan mereka tercukupi. Dialah Umar bin Khaththab, yang telah memerintahkan seluruh gubernurnya agar makan roti kering bersamanya sementara melarang mereka memakan daging jatah rakyatnya. Dialah, Umar bin Khaththab, yang begitu takutnya menyandang gelar Amirul Mukminin (baca: pemimpin) sehingga ia rela hidup secukupnya agar menjadi contoh para gubernurnya agar tidak menjadi pemimpin yang hidup berkemewahan.
Dalam riwayat disebutkan, Menurut Al-Badri (1990), Ad Damsyiqy menceritakan suatu kisah dari Al Wadliyah bin atha’, yang mengatakan bahwa ada tiga orang guru yang mengajar anak-anak (baca: TK) di Madinah, Khalifah Umar Ibnu Al Khaththab memberi gaji sebesar 15 dinar setiap bulan (satu dinar = 4,25 gram emas). Ini dalam rangka kepeduliannya terhadap aktivitas pendidikan di kala itu dan menjadi bukti bahwa negara bertanggung jawab dan memegang peranan penting atas pelaksanaan pendidikan.
Khalifah Umar ra., pemimpin negara Khilafah yang luas wilayahnya meliputi Jazirah Arab, Persia, Irak, Syam (sekarang : Syria, Yordania, Lebanon, Israel, dan Palestina), serta Mesir, pernah berkata:
“Andaikan ada seekor hewan di Irak kakinya terperosok di jalan, aku takut Allah akan meminta pertanggungjawabanku kenapa tidak mempersiapkan jalan tersebut (menjadi jalan yang rata dan bagus).”
Sungguh dia adalah pemimpin yang bertakwa dan senantiasa menyadari bahwa Allah SWT senantiasa memonitornya (muraqabah) dalam menjalankan kepemimpinannya, sehingga dengan demikian dia akan menjauhkan diri dari sikap sewenang-wenang (zalim) kepada rakyat maupun sikap abai terhadap urusan-urusan rakyat.
Kisah masyhur dari Khalifah Umar bin Khaththab ra. yang senantiasa menginspeksi rakyatnya, apakah masih ada rakyatnya yang tidak bisa makan pada hari itu. Rasulullah saw bersabda :
“Seorang imam (khalifah/kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rakyatnya.” [HR al-Bukhari dan Muslim].
Bahkan, beliau tidak pandang bulu. Khalifah Umar bin al-Khaththab pernah menyita sendiri seekor unta gemuk milik putranya, Abdullah bin Umar, karena kedapatan digembalakan di padang rumput milik Baitul Mal. Ini dinilai Umar sebagai bentuk penyalahgunaan fasilitas negara.
Kerisauan Umar ra. yang takut kelak akan dihadapkan pada pengadilan Allah, kemudian beliau risau kalau ditanya tentang rakyatnya. Kata beliau, demi Allah kalau benar aku telah berbuat adil terhadap mereka, aku tetap khawatir akan diri ini. Aku khawatir tidak dapat menjawab pertanyaan Allah. Dan risau kalau ada rakyat yang terzalimi olehku, sedangkan aku tidak menyadarinya.
Umar bin Khaththab terkenal tegas dan kukuh dalam berpegang kepada kebenaran. Namun, dalam hal kematian beliau pun senantiasa teringat padanya. Beliau menangis saat mendengarkan ayat-ayat atau peringatan tentang akhirat. Bahkan cincin yang dikenakannya bertuliskan "Kematian itu sudah cukup sebagai peringatan, wahai Umar!" Demi menumbuhkan keberanian rakyat mengoreksi aparat, Khalifah Umar bin al-Khaththab di awal pemerintahannya pernah menyatakan,
“Jika kalian melihatku menyimpang dari jalan Islam maka luruskan aku walaupun dengan pedang.”
Yang menjadi pertanyaan kita, apakah para pemimpin kita telah melakukan apa yang telah dicontohkan oleh Khalifah Umar ra?

Umar bin Abdul Aziz ra.

Ketika itu, dunia Islam berada di bawah kepemimpinan Khilafah Bani Umayyah. Tersebutlah dalam sejarah, Khalifah ke-8 Bani Umayyah, yakni Umar bin Abdul Aziz (memerintah 717-720 M) sebagai salah seorang Amirul Mu’minin yang menggoreskan tinta emas dalam bingkai sejarah kejayaan kekhalifahan di masanya. Beliau dikenal sebagai pemimpin yang menjadi teladan atas kepemimpinannya serta dalam menjaga kesejahteraan dan keamanan rakyatnya.
Beliau juga dikenal teladan dalam mengatur pemerintahan dan mengatur aparat-aparatnya. Termasuk dalam memberantas korupsi. Dalam riwayat, suatu ketika, demi menjaga agar tidak mencium bau secara tidak hak, Khalifah Umar bin Abdul Azis sampai menutup hidungnya saat membagi minyak wangi kepada rakyatnya. Maka, dengan teladan pemimpin, pemberantasan tindak korupsi jadi mudah. Mereka juga akan lebih siap memilih orang-orang bersih untuk menjadi polisi, jaksa, atau hakim, karena tak takut akan terseret sendiri. Umar berupaya untuk membersihkan baitul mal dari pemasukan harta yang tidak halal dan berusaha mendistribusikannya kepada yang berhak menerimanya. Umar membuat perhitungan dengan para Amir bawahannya agar mereka mengembalikan harta yang sebelumnya bersumber dari sesuatu yang tidak sah. Di samping itu, Umar sendiri mengembalikan milik pribadinya sendiri, yang waktu itu berjumlah sekitar 40.000 dinar setahun, ke baitul mal. Harta tersebut diperoleh dan warisan ayahnya, Abdul Aziz bin Marwan.
Masa pemerintahannya diwarnai dengan banyak reformasi dan perbaikan. Dia banyak menghidupkan dan memperbaiki tanah-tanah yang tidak produktif, menggali sumur-sumur baru, dan membangun masjid-masjid. Dia juga mendistribusikan sedekah dan zakat dengan cara yang benar sehingga kemiskinan tidak ada lagi pada zamannya. Pada masa pemerintahannya tidak ada lagi orang yang berhak menerima zakat ataupun sedekah. Berkat ketakwaan dan kesalihannya, dia dianggap sebagai Khulafaur Rasyidin yang ke-5.
Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra. menyatakan bahwa sesungguhnya berdiam diri (membisu) terhadap kemungkaran dan pelakunya adalah termasuk kemungkaran itu sendiri yang berhak mendapat sanksi di dunia. Sanksi di sini adalah ta‘zîr yang diserahkan sepenuhnya kepada Imam/Khalifah atau seorang qâdhi. Diriwayatkan, polisi Umar bin Abdul Aziz pernah datang pada sekelompok orang yang sedang meminum khamr, sementara di sana juga ada seorang Muslim yang duduk bersama mereka, tetapi dia tidak ikut-ikutan karena sedang berpuasa. Saat itu, polisi diperintahkan untuk mencambuk semua orang yang ada di sana. Namun, sang polisi bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, si fulan ini tidak ikut minum bersama mereka; dia sedang berpuasa.” Umar bin Abdul Aziz tegas berkata, “Hadirkan dia dan cambuklah!” (Al-Qaradhawi, Al-Halal wa al-Harâm, hlm. 73).
Umar melakukan hal demikian karena beliau memandang sikap berdiam diri atas kemungkaran sebagai sebuah tindakan kriminal.
Diceritakan pula bahwa Khalifah Umar bin Abdul 'Aziz setiap malam mengumpulkan para fiqaha. Mereka saling mengingatkan tentang kematian, hari kiamat, dan akhirat. Mereka pun menangis seakan akan menghadapi kematian.
Prestasi-prestasi yang pernah diukir oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz di antaranya:
Tidak ada kemiskinan di Negara Islam, tiada yang layak untuk menerima zakat yang kemudian dana dari zakat tersebut digunakan untuk membebaskan para budak di Eropa.
Itulah riwayat kedua Umar, semoga mereka mendapat jaminan surga atas semua jasa dan pengorbanannya dalam memuliakan umat ini. Wallahua’lam.

17:27, 07072007 (eh, tidak ada hubungannya dengan deretan angka 7 lho!)
hari yang indah untuk berdiam diri seharian di rumah untuk merefleksikan untaian sejarah kejayaan Islam yang pernah terukir dengan tinta emas dalam bingkai kegemilangannya yang mungkin sudah tidak lagi diminati oleh anak muda zaman sekarang.
Selengkapnya...