Monday, October 8, 2007

Asa Surga

Kira-kira seminggu yang lalu, begitu tiba di depan pintu rumah, saya mendengar dialog singkat seorang pemuda yang sedang membeli sebatang rokok dengan seorang lelaki paruh baya, di depan kios kecil yang terletak di depan tempat kost saya. Kurang lebih ilustrasinya seperti ini,

Lelaki paruh baya : “Tidak puasa ko lagi hari ini?”

Pemuda : (Sambil menjepit sebatang rokok di antara dua jari di tangan kanannya, kemudian berusaha memperlihatkan kemantapannya dalam menjawab)

“Biar puasa-ki, masuk jaki juga neraka. Jadi skali tidak usah-mi puasa saja!”

Lelaki paruh baya : (Kelihatan bingung mau membalas dengan kalimat seperti apa lagi)

Kemudian percakapan mereka berlalu seiring masuknya saya ke dalam rumah sambil berusaha mencerna pernyataan dari pemuda tadi. Sedemikian putus asanyakah dia sehingga dengan begitu sangat sadar mengeluarkan rangkaian kata yang saya sendiri sangat susah untuk mencari maksud di balik kata-katanya itu. Pikirku, bisa saja dia (pemuda) hanya ingin memberikan jawaban instan karena tidak ingin berlama-lama meladeni pertanyaan itu, atau dia hanya ingin menunjukkan bahwa berpuasa itu ternyata sangat sulit dan dia sendiri tak sanggup menjalaninya. Atau, dia betul-betul sudah putus asa dan telah menutup harapan dan peluangnya untuk bisa masuk ke surga yang di dalamnyalah kita akan kekal.

Jikapun alasan yang terakhir yang dia pikirkan, maka saya dapat menyimpulkan sementara bahwa alasan ini muncul karena belum mantapnya pemahaman tentang agama, termasuk keberadaan surga itu sendiri dalam kepalanya. Masalah ini muncul karena edukasi yang sangat kurang tersedia di lingkungan masyarakat. Keluarga sebagai benteng awal pendidikan bagi setiap anak belum bisa menjadi pondasi kekuatan akidah. Sekolah yang dianggap sebagai sarana penanaman iman juga tidak bisa menjamin harapan para orang tua yang telah melepas tanggung jawabnya tadi agar anak-anaknya mempunyai filter yang cukup saat bergaul di tengah-tengah masyarakat. Yang terjadi adalah sekularisasi pendidikan. Bukti yang sangat tampak adalah adanya sekolah yang dikelola oleh Departemen Pendidikan dan Departemen Agama. Padahal di zaman kekhalifahan Islam, pendidikan tidak dipolarisasikan seperti itu. Antara ilmu agama dan pengetahuan sains teknologi terintegrasi, saling beriringan sehingga tidak terjadi seperti sekarang, di mana pendidikan agama dicicipi oleh siswa sekolah (yang dikelola Departemen Pendidikan) hanya berdurasi dua jam. Sungguh ironis mengingat ilmu agama sangat erat kaitannya dengan pencapaian visi seorang manusia di dunia maupun di akhirat, termasuk pemahaman tentang surga tadi dan bagaimana pejalanan menuju ke sana. Seorang pemuda yang telah mengumbar keputusasaannya tentang harapan menuju surga-Nya. Inikah salah satu cerminan akibat diberlakukannya sistem yang ada sekarang? Wallahu a’lam bi ash shawab.

28 September 2007

No comments: